Selasa, 09 Februari 2016

Lelaki Bodoh



Aku pernah membayangkan kamu menyandarkan kepala di bahuku yang tak begitu kekar ini, namun cukup untuk membuatmu nyaman. Aku pernah membayangkan kamu barada dalam pelukakanku, yang cukup untuk menghangatkanmu, seperti dulu saat kamu dan aku menjadi kita. Namun, itu hanya khayalan, semu, dan menyakitkan. Meski menyakitkan aku tetap mebayangkanmu karena kepalaku selalu dipenuhi segala imaji tentangmu.

Sudah lebih dari 2 tahun kita tak pernah bertukar kabar, pun tak pernah bersua. Aku merindumu setiap saat, bila senja mulai memamerkan kecantikannya dan langit perlahan menghitam rinduku ini semakin menjadi-jadi. Dadaku semakin sesak karena tumpukan rindu yang tak pernah berkurang. Aku menjalani hidup yang sungguh menyedihkan, dan selalu berkawan dengan kesepian. 

Terakhir kali kita bertemu di cafe biasa, yang sering kita gunakan untuk menghabiskan waktu. Saat itu aku datang dengan tatapan mata sayuh, seperti mayat hidup. Tapi aku mencoba untuk tidak terlihat semenyedihkan itu di depanmu. Pertemuan itu begitu canggung dan dingin sejak percekcokkan kita mengenai studimu ke luar negeri. Kamu sudah duduk di meja kesukaan kita berdua, di dekat jendela. Kau memandangku sebentar lalu memesan kopi kesukaanku, coffe with espresso. Lama tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kita berdua, sampai akhirnya aku memulainya dengan suara pelan namun serak sisa menangis semalam, “aku tahu, aku begitu mencintaimu. Tapi tak peduli seberapa besar cintaku padamu, begitu pula cintamu padaku. Ini tidak bisa dilanjutkan, sesuai katamu yang tak percaya dengan hubungan jarak jauh, dan dirimu yang enggan menerima usulanku untuk tetap mencobanya.” lalu aku berhenti untuk meminum kopi yang sedari tadi hanya aku aduk, melihatmu sekilas lalu melanjutkan apa yang aku bicarakan tadi “tidak peduli seberapa kuat aku meyakinkanmu, kamu akan tetap pergi. Aku tidak akan menyalahkanmu ini keputusan yang aku yakin kamu sendiri sulit membuatnya. Semoga kamu di sana baik-baik saja dan kuliahmu berjalan lancar.”  

Aku memberanikan diri melihat wajahmu, berusaha untuk mencari tatapan matamu. Kamu nampak merasa bersalah dan kebingungan mau menjawab apa, meski kamu berusaha menutupinya dengan cara menunduk. Aku sungguh tak ingin melihat wajahmu seperti itu, tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. Mungkin waktu dan jarak ingin menguji kesetiaan kita. Dan kamu memilih menyerah sebelum mencoba. Ada kebekuan di antara kita, kebekuan yang membuatku resah, sampai akhirnya kamu memecahkan kebekuan itu “Aku minta maaf, mungkin mengucapkan maaf saja tidaklah cukup. Tapi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengatakan maaf” lalu perkataanmu terhenti karena dirimu yang mencoba menahan air mata “Meski hubungan di antara kita berakhir, kau masih mau kan menjadi temanku? Kita masih bisakan bertukar kabar?”. Aku tidak berani memberikan jawaban pasti, dan lebih memilih mengakhiri percakapan kita dengan diam. 

          Aku terlihat seperti lelaki bodoh, yang memilih tetap mecintai dengan diam-diam, membiarkan kenangan tumbuh subur sembari membiarkan rindu yang memupuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar