Aku pernah membayangkan kamu menyandarkan kepala di
bahuku yang tak begitu kekar ini, namun cukup untuk membuatmu nyaman. Aku
pernah membayangkan kamu barada dalam pelukakanku, yang cukup untuk
menghangatkanmu, seperti dulu saat kamu dan aku menjadi kita. Namun, itu hanya
khayalan, semu, dan menyakitkan. Meski menyakitkan aku tetap mebayangkanmu
karena kepalaku selalu dipenuhi segala imaji tentangmu.
Sudah lebih dari 2 tahun kita tak pernah bertukar
kabar, pun tak pernah bersua. Aku merindumu setiap saat, bila senja mulai
memamerkan kecantikannya dan langit perlahan menghitam rinduku ini semakin
menjadi-jadi. Dadaku semakin sesak karena tumpukan rindu yang tak pernah
berkurang. Aku menjalani hidup yang sungguh menyedihkan, dan selalu berkawan dengan
kesepian.
Terakhir kali kita bertemu di cafe biasa, yang
sering kita gunakan untuk menghabiskan waktu. Saat itu aku datang dengan
tatapan mata sayuh, seperti mayat hidup. Tapi aku mencoba untuk tidak terlihat
semenyedihkan itu di depanmu. Pertemuan itu begitu canggung dan dingin sejak
percekcokkan kita mengenai studimu ke luar negeri. Kamu sudah duduk di meja
kesukaan kita berdua, di dekat jendela. Kau memandangku sebentar lalu memesan
kopi kesukaanku, coffe with espresso.
Lama tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kita berdua, sampai
akhirnya aku memulainya dengan suara pelan namun serak sisa menangis semalam, “aku
tahu, aku begitu mencintaimu. Tapi tak peduli seberapa besar cintaku padamu,
begitu pula cintamu padaku. Ini tidak bisa dilanjutkan, sesuai katamu yang tak
percaya dengan hubungan jarak jauh, dan dirimu yang enggan menerima usulanku
untuk tetap mencobanya.” lalu aku berhenti untuk meminum kopi yang sedari tadi
hanya aku aduk, melihatmu sekilas lalu melanjutkan apa yang aku bicarakan tadi
“tidak peduli seberapa kuat aku meyakinkanmu, kamu akan tetap pergi. Aku tidak
akan menyalahkanmu ini keputusan yang aku yakin kamu sendiri sulit membuatnya. Semoga
kamu di sana baik-baik saja dan kuliahmu berjalan lancar.”
Aku memberanikan diri melihat wajahmu, berusaha
untuk mencari tatapan matamu. Kamu nampak merasa bersalah dan kebingungan mau
menjawab apa, meski kamu berusaha menutupinya dengan cara menunduk. Aku sungguh
tak ingin melihat wajahmu seperti itu, tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal
ini. Mungkin waktu dan jarak ingin menguji kesetiaan kita. Dan kamu memilih
menyerah sebelum mencoba. Ada kebekuan di antara kita, kebekuan yang membuatku
resah, sampai akhirnya kamu memecahkan kebekuan itu “Aku minta maaf, mungkin
mengucapkan maaf saja tidaklah cukup. Tapi yang bisa kulakukan sekarang
hanyalah mengatakan maaf” lalu perkataanmu terhenti karena dirimu yang mencoba
menahan air mata “Meski hubungan di antara kita berakhir, kau masih mau kan
menjadi temanku? Kita masih bisakan bertukar kabar?”. Aku tidak berani
memberikan jawaban pasti, dan lebih memilih mengakhiri percakapan kita dengan
diam.